Umar Juoro
Nilai rupiah terdepresiasi cukup dalam, 7,7 persen (ytd). Secara eksternal rencana Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, menaikkan suku bunga, mendorong investor asing menjual obligasi Surat Utang Negara dan saham.
Indeks pasar modal turun sebesar 5,6 persen (ytd). Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah 10 tahun naik hampir 1 persen (ytd) menjadi 8,7 persen. Tambahan lagi pembayaran cicilan dan bunga utang swasta serta impor, terutama minyak, menambah tekanan terhadap rupiah. Prospek ekonomi yang menurun juga makin menekan nilai rupiah.