Tampilkan postingan dengan label Trias Kuncahyono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trias Kuncahyono. Tampilkan semua postingan

21/06/15

Tiananmen

Trias Kuncahyono

Langit mulai agak mendung ketika kaki melangkah menyusuri trotoar, sisi kanan sepanjang Jalan Chang’an, dari arah timur. Pohon mapel berderet tegak, hijau daunnya. Rerumputan sepanjang trotoar itu juga hijau. Tak ada pedagang kaki lima. Yang ada hanyalah pejalan kaki dari kedua arah, orang bergerombol berdiri atau duduk di tepi trotoar, dan polisi.

Jalan Chang’an membujur dari timur ke barat, menembus Lapangan Tiananmen. Inilah lapangan yang sangat kondang, tidak hanya di Beijing, Tiongkok, tempat lapangan itu berada, juga tidak hanya di seluruh Tiongkok, tetapi ke seluruh dunia. Ia sama masyhur antara lain dengan Lapangan Merah di Rusia atau Lapangan Tahrir di Kairo, tempat peristiwa bersejarah sekaligus berdarah terjadi.

14/06/15

Zhou Enlai

Trias Kuncahyono

Rabu, 10 Juni 2015, kami meninggalkan Beijing, pukul 08.33. Tiga puluh menit kemudian, kereta cepat yang membawa kami sudah berhenti di Stasiun Tianjin, Tiongkok timur laut. Padahal, jarak antara Beijing dan Tianjin adalah 113,8 kilometer (km). Yang juga menarik adalah kereta berangkat sesuai jadwal keberangkatan yang tertera dalam tiket dan sampai tujuan sesuai pula dengan jadwal.

Walau kereta berlari demikian cepat, perjalanannya nyaman. Kereta bersih, berpendingin ruangan 25 derajat celsius, dan toiletnya pun bersih, tidak basah. Harga tiketnya juga terhitung tidak mahal: 65,50 renminbi atau sekitar Rp 131.000.

07/06/15

Bung Karno

Trias Kuncahyono

Kafe Insomnia, suatu hari di tahun 2011. Kafe yang berdiri di sisi perempatan Jalan Strahinjica Bana 66a, Beograd, Serbia, itu tidak besar. Gedung kafe ini berlantai dua. Di lantai bawah, ada sekitar 20 kursi, demikian juga di lantai atas. Namun, di ruang kecil itu, nama besar Bung Karno bergaung begitu keras.

”Ah, Anda dari Indonesia,” ujar Miroslavic begitu ramah. Lelaki kelahiran tahun 1942 yang pernah memiliki percetakan kertas undangan dan tanggalan itu lalu dengan lancar bercerita tentang Soekarno.

24/05/15

Havana, Menjelang Fajar

Trias Kuncahyono

Saya seorang Marxis-Leninis, dan akan tetap seperti itu hingga mati. Itu kata pemimpin Kuba, Fidel Castro (89), beberapa puluh tahun silam. Sejak Castro berkuasa, menjadi perdana menteri mulai tahun 1959, secara resmi Kuba adalah negara ateis.

Castro yang "memakan dan meminum" karya-karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin, memang menjelma menjadi seorang Marxist-Leninist. Ia juga menghayati kredo yang pernah diteriakkan oleh Karl Marx (1818-1883), bahwa agama adalah keluhan makhluk yang tertekan, perasaan dunia tanpa hati, sebagaimana ia adalah suatu roh zaman yang tanpa roh. Ia adalah candu masyarakat.

20/05/15

Karama

Trias Kuncahyono

Pada mulanya, hanya tiga kata yang diteriakkan oleh ribuan orang yang mengarus ke Tahrir Square di Kairo, Mesir, pada 25 Januari 2011. Ribuan orang itu bergerak masuk ke Tahrir Square (Alun-alun Tahrir) yang menjadi jantung gerakan perlawanan terhadap pemerintahan Presiden Hosni Mubarak.

Mereka masuk Alun-alun Tahrir melewati patung Saad Zaghlul, pemimpin revolusi Mesir pada 1919. Sambil berjalan-bahkan yang sudah berada di Alun-alun Tahrir-mereka terus meneriakkan tiga kata bertuah bagaikan mantra: aish, hurriya, dan karama (roti, kebebasan, dan martabat). Dari sini, massa yang tidak puas terhadap pemerintah bergerak dan pada akhirnya mereka menuntut pengunduran diri Mubarak. Mubarak mundur 11 Februari 2011 (Tahrir Square, Jantung Revolusi Mesir, Trias Kuncahyono, 2012).

17/05/15

Roma Telah Bicara

Trias Kuncahyono

Ada pepatah lama yang berbunyi, Roma locuta, causa finita. Pepatah ini diterjemahkan sebagai Roma bicara, perkara selesai. Orang yang pertama kali mengucapkan ujar-ujaran itu adalah Augustinus (396-430), teolog dan filsuf besar yang lahir di Hippo, Aljazair. Sebenarnya, ungkapan ituyang secara bebas diterjemahkan menjadi perkataan pemimpin adalah sebuah keputusan, tidak ada lagi debat atau diskusidigunakan untuk melawan ajaran sesat.

Meski demikian, kita kutip pepatah itu untuk menegaskan apa yang dinyatakan Vatikan, Rabu (13/5) lalu. Pada hari itu, Vatikan mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan "Negara Palestina." Penyebutan secara jelas "Negara Palestina" mengandung arti bahwa Takhta Suci mengakui eksistensi dan kemerdekaan Negara Palestina. Pengakuan Vatikan mengirimkan pesan kepada suara hati semua umat manusia bahwa bangsa Palestina berhak menentukan dirinya sendiri, memperoleh pengakuan formal, berhak memperoleh kebebasan, dan menjadi negara merdeka. Dengan kata lain, Vatikan mendorong terwujudnya solusi dua negara: Israel dan Palestina.

10/05/15

Kain dan Abil

Trias Kuncahyono

Ini kisah tentang anak-anak Adam dan Hawa. Alkisah, pada suatu hari, Kain mencari cara untuk membunuh adiknya, Abil. Ia merasa sakit hati karena korban bakarannya tidak diterima Hyang Jagad Nata. Sebaliknya, asap korban bakaran Abil membubung tinggi mengangkasa, menembus langit sampai ke hadapan-Nya.

Iri dan sakit hati menguasai Kain. Ia benci pada Abil. Ia tidak mau hal itu terulang lagi. Untuk mencegah agar hal itu tidak berulang, hanya ada satu cara: Abil dihabisi. Maka, terjadilah apa yang diinginkan Kain. Ia membunuh Abil, adiknya.

03/05/15

Lewat Tengah Malam

Trias Kuncahyono

“Saya hanyalah ibu rumah tangga biasa, Mbak," demikian kalimat pembuka surat terbuka Ephie Craze yang menyatakan dirinya sebagai mantan istri seorang pencandu narkoba. Surat terbuka yang ditulis di laman Facebook-nya, Senin (27/4), ditujukan kepada Anggun C Sasmi, penyanyi Indonesia kelahiran Jakarta yang kini menetap di Perancis. Anggun sebelumnya juga menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo sebagai ungkapan ketidaksetujuannya terhadap pelaksanaan hukuman mati karena kasus narkoba, terutama terhadap warga negara Perancis, Serge Areski Atlaoui.

"Apakah Mbak tahu, apa saja akibat buruk narkoba? Sy rasa sebagai wanita cerdas yang sudah melanglang buana pasti mbak tau pasti akan hal itu. Tp apakah mbak tau akibatnya bagi org2 terdekat yang mencintai org2 yang terlibat dengan narkoba? Sy rasa mbak tak memahami hal itu. Sy adalah mantan istri dr seorang pecandu narkoba. Sy seorang ibu dr 2 org anak. Apakah mbak tau rasanya saat menangis memohon pada suami utk berhenti mengkonsumsi narkoba?"

19/04/15

Ubuntu

Trias Kuncahyono

Bung Karno, bersetelan putih-putih dengan dasi hitam, kopiah hitam, berdiri di atas podium. Pandangan matanya tegas menatap bola dunia di depannya. Di belakangnya duduk berjajar, dari kiri—Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), U Nu (PM Burma), Mohammad Hatta (Wakil Presiden RI), kursi kosong untuk Bung Karno, Ali Sastroamidjojo (PM Indonesia), John Kotelawala (PM Ceylon), dan Muhammad Ali Bogra (PM Pakistan). Di belakang mereka berderet 29 negara peserta Konferensi Asia Afrika 1955.

Saat itu, pukul 10.20 WIB, Bung Karno menyampaikan pidato pembukaan Konferensi Asia Afrika, 18 April 1955, di Gedung Merdeka, Bandung. Pidato bersejarah itu diberi judul Let A New Asia And a New Africa be Born—Marilah Kita Lahirkan Asia dan Afrika Baru. Inilah peristiwa historis yang mempertemukan dan mempersatukan ideologi baru negara-negara Asia Afrika: nasionalisme, agama, dan kemanusiaan. Ideologi yang ditegakkan oleh negara-negara bekas jajahan di tengah pertarungan kekuatan Barat (kapitalisme) dan Timur (komunisme).

05/04/15

Anak-anak Abraham

Trias Kuncahyono

Apakah agama mengajarkan kekerasan? Apakah kekerasan dengan alasan tertentu dibenarkan agama? Apakah kekerasan atas nama agama bisa diterima? Apakah kekerasan yang disebut-sebut atas nama agama benar-benar berlatar agama? Masih banyak pertanyaan lain yang bisa diajukan berkaitan dengan kekerasan dan agama.

Ada banyak jawaban atas pertanyaan tersebut. Tetapi, ”Seorang mistikus mengatakan, The heart of religion is the religion of the heart. And the heart of the heart is peace and love. Seseorang akan dikatakan memahami dan menghayati agama, jika hatinya telah dipenuhi oleh cinta yang datang dari Tuhan Mahakasih, sang penebar cinta. Karena cinta Tuhanlah semesta ini ada dan dengan cinta, maka kehidupan ini akan menjadi indah. Bukankah kebencian dan peperangan membuat hidup menjadi pengap dan menyiksa.” Demikian tulis Komaruddin Hidayat dalam prolog untuk buku Jerusalem 33, Imperium Romanum, Kota Para Nabi, dan Tragedi di Tanah Suci (Trias Kuncahyono, 2011).

23/03/15

Armagedon

Trias Kuncahyono

Demikianlah kata Sang Pengkhotbah, ”Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya…ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.” Dan, sekarang ini, adalah ”waktu untuk perang.” Berperang melawan tindak angkara murka, berperang melawan tindakan tidak berperikemanusiaan, dan berperang melawan kegelapan. Berperang untuk menciptakan perdamaian.

Umpama kata, inilah zaman peperangan antara kekuatan terang dan kegelapan; perang antara kekuatan kebaikan melawan kekuatan jahat. Apa yang terjadi di Suriah utara dan timur serta Irak utara menjadi contoh yang paling pas untuk menjelaskan peperangan antara kekuatan terang dan kegelapan. Di wilayah itulah, kelompok yang menamakan dirinya Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) mengumbar angkara murka dengan menyingkirkan siapa saja yang dianggap tidak sejalan dengan ideologi dan keyakinan, dengan kehendaknya.

01/03/15

Diplomat

Trias Kuncahyono

Di Eropa, abad pertengahan, hidup pandangan bahwa diplomat pertama di dunia ini adalah malaikat. Malaikat diutus Tuhan ke dunia untuk menemui manusia. Cerita yang sama bisa kita baca dari kisah para nabi. Namun, tentu, tidak setiap hari malaikat turun ke bumi.

Kata ”diplomat” berasal dari bahasa Yunani, yakni diplõmátes, yang berarti ’pemegang surat keterangan, ijazah’. Dalam hal ini bukan berarti selembar sertifikat, melainkan surat akreditasi diplomat yang memungkinkan dia melaksanakan tugasnya atas nama pemerintah atau institusi dalam yurisdiksi negara atau institusi lain.

01/02/15

Enrique Pena Nieto

Trias Kuncahyono

Ia seorang pengacara, juga politisi. Ayahnya, Severiano, adalah Wali Kota Acambay, Meksiko. Pada tahun 1993, Enrique Pena Nieto menikah dengan Monica Pretelini. Namun, pada tahun 2007, Monica meninggal dan meninggalkan tiga anak. Tiga tahun kemudian, tahun 2010, Pena menikahi bintang telenovela, Angelica Rivera. Namun, ia mempunyai seorang anak di luar nikah.

Itulah potret kecil Enrique Pena Nieto, Presiden Meksiko sekarang. Jabatan itu dipegang sejak 1 Desember 2012, menggantikan Presiden Filepe Calderon. Pena menjadi presiden dengan membawa bendera Partai Revolusioner Institusional (Partido Revolucionario Institucional/PRI) yang menguasai panggung politik Meksiko selama 71 tahun terakhir.

11/01/15

Karikatur

Trias Kuncahyono

Tak seorang pun tahu pasti siapa yang menemukan—yang pertama kali membuat—karikatur. Itu kalimat pertama artikel ”The History of Caricature” yang ditulis Douglas Wolk (The New York Times, 2 Desember 2011).

Pernyataan itu terasa relevan diajukan lagi saat ini setelah terjadi tragedi yang menimpa mingguan satire Charlie Hebdo, terbitan Paris, Perancis. Hari Rabu lalu, kantor mingguan itu diserang orang bersenjata, yang secara dingin menembak mati 12 orang, empat orang di antaranya adalah karikaturis.

04/01/15

Galata Köprüsü

Trias Kuncahyono

Orang Turki memberi nama Galata Köprüsü atau Jembatan Galata. Jembatan itu membentang di atas Golden Horn, sungai besar gabungan antara Sungai Alibeykoy dan Kagithane, yang berbentuk tanduk. Itulah sebabnya disebut ”Golden Horn”. Aliran Golden Horn masuk ke ujung Selat Bosphorus sebelum bertemu dengan Laut Marmara. Hilir mudik perahu dan kapal melintasi Golden Horn mengingatkan pemandangan serupa di Sungai Nil, Kairo, Mesir.

Jembatan dua tingkat di Istanbul, Turki, ini—tingkat pertama untuk rumah makan dan tingkat kedua untuk jalan raya, dengan tiga jalur mobil untuk setiap arahnya, satu jalur rel trem, dan di kedua sisinya dibuat jalan untuk para pejalan kaki—mula pertama dibangun oleh Kaisar Justinianus Agung yang berkuasa pada abad ke-6. Jembatan itu terus diperbaiki, hingga akhirnya dibangun ulang menjadi seperti sekarang ini pada 1990-an.

28/12/14

Diplomasi Bergoglio

Trias Kuncahyono

Dua puluh satu Januari 1998, Paus Yohanes Paulus II mengawali kunjungan lima harinya ke Kuba. Sebuah kunjungan yang luar biasa karena sejak Fidel Castro berkuasa tahun 1959, Kuba menyatakan diri sebagai ateistis. Pemerintah revolusioner pimpinan Castro menentang keras Gereja Katolik karena dianggap ada hubungannya dengan diktator Fulgencio Batista yang disingkirkannya. Kuba juga mengusir pastor asing, menyingkirkan pastor pribumi (Kuba), dan memantau semua kegiatan Gereja.

Salah seorang yang menyertai Paus Yohanes Paulus II adalah Uskup Agung Buenos Aires Jorge Mario Bergoglio, yang sekarang Paus Fransiskus. Bergoglio, sebagai delegasi Gereja Amerika Latin, mendengar serta mencatat pembicaraan antara Paus Yohanes Paulus II dan Fidel Castro. Hasilnya? Setelah kembali ke Argentina, Bergoglio menulis buku kecil yang diberi judul Dialogues between John Paul II and Fidel Castro. Dalam buku ini, Bergoglio mengkritik pemberangusan kebebasan di Kuba, tetapi juga menyatakan, ”Motif-motif yang menyebabkan Amerika Serikat menjatuhkan embargo (terhadap Kuba) harus sepenuhnya disingkirkan.”

21/12/14

Tarian Terakhir

Trias Kuncahyono

Hari Sabtu, 15 April 1961. Matahari baru bersiap muncul. Ketika kantuk masih menguasai kedua matanya, tiba- tiba pemimpin Kuba, Fidel Castro, terbangun. Ia dikagetkan oleh deru dua pengebom B-26 yang terbang rendah di atas atap markas besar militer Kuba, Point One, di pinggiran Havana, Kuba. Kedua pengebom peninggalan Perang Dunia II itu terbang dari Nikaragua. ”Pesawat siapa itu?” teriak Castro kepada anggota stafnya. Tak satu pun menjawab pertanyaan itu. Tiba-tiba terdengar ledakan dari pinggiran Bandara Campo Libertad. Saat itulah dimulai invasi ke Kuba oleh Amerika Serikat.

Dua hari kemudian, 17 April 1961, 1.400 orang Kuba dalam pengasingan di AS, yang sudah dilatih CIA di Guatemala, menyerbu Kuba. Jim Rasenberger dalam bukunya, The Brilliant Disaster (2011), menceritakan, pembentukan milisi itu yang kemudian tergabung dalam Brigade 2506 atas perintah Presiden Dwight D Eisenhower setelah hubungan diplomatik kedua negara putus, Januari 1961, sebagai akibat dari Perang Dingin. Kuba saat itu menjadi sekutu Uni Soviet di bawah kepemimpinan Nikita Khrushchev.

14/12/14

Ibnu Khaldoun

Trias Kuncahyono

Dua perempuan—kira-kira berusia 50 tahun—duduk di kursi besi, persis di depan patung Ibn Khaldoun di taman yang diapit Jalan Habib Bourguiba, Tunis. Patung Ibn Khaldoun (1332-1406) memegang buku, berdiri di ujung Jalan Habib Bourguiba. Jalan Habib Bourguiba, dari nama bapak kemerdekaan Tunisia, membujur dari timur ke barat membelah pusat kota Tunis, ibu kota Tunisia.

Ibn Khaldoun atau sering ditulis Ibn Khaldun dikenal sebagai sosiolog, sejarawan, ekonom, dan juga teolog Islam yang begitu kondang. Patung Ibn Khaldoun berdiri tegak, kokoh, dan dengan pandangan yang tajam menatap ke timur, ke arah matahari terbit; ke arah harapan baru muncul. Seperti yang diharapkan oleh rakyat Tunisia saat ini, setelah tiga tahun diharu biru dan diaduk-aduk oleh pergulatan politik, pertarungan para elite politik untuk memperebutkan kekuasaan; kekuasaan yang ditinggalkan oleh Presiden Zine al-Abidine Ben Ali yang dipaksa turun oleh rakyatnya pada 2011.

30/11/14

Hitam Putih

Trias Kuncahyono

Ingat lagunya Michael Jackson ”Black or White”? Lagu yang dirilis pada 5 November 1991 itu ada bagian syairnya yang berbunyi ...It don’t matter if you’re black or white..., tak jadi soal hitam atau putih. Pesan yang ingin disampaikan oleh Michael Jackson demikian benderang, demikian jelas.

Jauh tahun sebelumnya, di Philadelphia, lebih dari 200 tahun silam, berkumpullah para utusan dari 12 negara bagian Amerika Serikat. Mereka menginginkan lahirnya suatu pemerintahan yang demokratis, di mana kebebasan, keadilan, dan persamaan hak dapat berkembang.

27/11/14

Dua Remaja Putri

Trias Kuncahyono

CERITA Boko Haram adalah cerita kekejaman; cerita keganasan, kisah kegarangan; cerita kesadisan. Pendek kata, cerita tentang tindakan yang tidak manusiawi, tindakan yang menebarkan ketakutan, horor, dan teror.

Karena Boko Haram, meminjam ungkapan sastrawan Elie Wiesel saat melukiskan Adolf Eichmann, mantan komandan SS Nazi, yang bertanggung jawab atas pembunuhan jutaan orang Yahudi, seperti sosok monster lukisan Pablo Picasso. Picasso (25 Oktober 1881-8 April 1973), pelukis kondang asal Spanyol ini, melukiskan monster sebagai sosok bermata empat dan bertelinga tiga.