Ulil Abshar Abdalla
SAYA meletakkan
Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; sebuah agama yang
berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah
monument mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu dianggap sebagai
“patung” indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.
Saya melihat,
kecenderungan untuk “me-monumen-kan” Islam amat menonjol saat ini. Sudah
saatnya suara lantang dikemukakan untuk manandingi kecenderungan ini.