Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

11/11/09

Pahlawan Kini, Siapa?

Menjadi antiklimaks ketika rekomendasi Tim Delapan yang dipimpin Adnan Buyung Nasution oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung diserahkan ke Kejaksaan Agung dan Polri, dua aparat penegak hukum yang juga terlibat dalam kasus tersebut.

Masyarakat jengah. Bukankah agar masalah tidak berlarut-larut bisa dilakukan terobosan? Mungkin itulah jalur hukum. Akan tetapi, sebagai dua lembaga yang terlibat di dalamnya, bisakah diharapkan satu keputusan yang adil, adil secara hukum sekaligus adil dalam rasa keadilan masyarakat?

Ada titik relevansi antara menggugat antiklimaks kasus Bibit-Chandra dan Hari Pahlawan yang kita peringati Selasa kemarin, yakni makin tebal gelagat sulitnya menemukan sosok pahlawan, yang tidak hanya menggarisbawahi keluhan kita, tetapi juga menabalkan kekerdilan.

Ketika kriteria gelar pahlawan dari tahun ke tahun semakin diperbaiki, kepahlawanan semakin diperlukan dalam konteks kemendesakan dan kebutuhan riil. Tidak lepas dari aktualitas, di satu saat masyarakat membutuhkan seseorang yang berani merajut pluralitas bangsa yang tercabik-cabik oleh ketidakadilan, di saat lain merekalah pahlawan yang berani merajut perkubuan yang kalau dibiarkan menjadi sumbu perpecahan bangsa.

Siapa pahlawan masa kini? Dalam kasus aktual yang mengharubirukan masyarakat, kriteria kepahlawanan semacam apa perlu diintroduksi? Yang taat dengan pasal-pasal hukum demi tegaknya keadilan hukum? Atau yang berani mendahulukan rasa keadilan tanpa menelikung keadilan hukum?

Tidak gampang, memang! Dengan adagium ”sesuai dengan hukum yang berlaku” atau merasa punya bukti kuat untuk menahan di satu pihak, dan rasa keadilan masyarakat di lain pihak, keadilan hukum menjadi absurd. Yang menang adalah kekuatan dan kekuasaan.

Siapa pahlawan? Dalam kasus hukum aktual yang sekarang dengan seloroh cicak versus buaya, kepahlawanan diukur dari keberanian mendahulukan rasa keadilan. Keadilan relatif, bedakan dengan keadilan distributif, jauh dari semangat memilih ”jalan tengah”.

Membiarkan masyarakat bingung dan jengah sama arti dengan membiarkan berkembangnya virus hero (pahlawan) dan virus villain (penjahat) sekaligus. Dibutuhkan komitmen, bahwa jabatan membawa tanggung jawab, bahwa di tengah rasa keadilan semakin tidak terjangkau pada saat itu perlu tampil kepahlawanan.

Ketika pemberantasan korupsi menjadi komitmen, merawat dan menyuburkan lembaga yang dipercaya masyarakat adalah keharusan. Di sana diuji sosok kepahlawanan pemegang mandat noblesse oblige.

TAJUK RENCANA

10/11/09

Merindukan Kepahlawanan(?)

Garin Nugroho

Apa yang terjadi dengan bangsa ini? Kenapa kita tidak mempunyai kepahlawanan kepemimpinan hampir di berbagai bidang di tengah sejumlah peristiwa besar bangsa serta euforia demokrasi?

Masyarakat hampir tidak tahu, mana yang baik dan tidak baik, mana yang perlu dicontoh dan tidak dicontoh? Kita kehilangan panduan berbangsa, kepahlawanan kita adalah tokoh gosip dan tokoh bermasalah, bukan pemecah masalah.

Komentar seorang guru ini terkait berita KPK hingga Bank Century. Meski sederhana, sebenarnya merupakan muara dari nilai-nilai dasar kebangsaan, yakni bangunan warga negara terkait kerinduan laku nilai keutamaan berbangsa, sebutlah nilai-nilai pengorbanan, keteladanan, kejujuran, kerja keras, hingga rasa malu.

Kepahlawanan adalah kodrat kemanusiaan terbesar, yang hidup sejak dini, melekat dalam seluruh pertumbuhan manusia dalam upaya membangun peradabannya. Dengan kata lain, kepahlawanan melekat pada kerinduan dari sifat mulia manusia, yang mengontrol sifat-sifat manusia lain, seperti sifat kebinatangan. Sifat-sifat itu muncul pada perilaku kerakusan, jalan pintas, kehilangan rasa malu, dan lainnya.

Maka, penanda terbesar kemerosotan kebangsaan terbaca dengan tidak dihormatinya nilai-nilai kepahlawanan sekaligus tidak lahirnya bentuk-bentuk kepemimpinan aktual hari ini, yang mampu memberi nilai-nilai kepahlawanan dalam berbagai perspektifnya.

Oasis kepahlawanan

Kegelisahan sang guru atas hilangnya nilai kepahlawanan mencerminkan demokrasi kehilangan dua pilar terbesar, yakni manusia dan kemanusiaannya sebagai pelaksanaan kerja demokrasi. Di sisi lain, hilangnya pendidikan warga negara dalam membangun proses berbangsa.

Perlu dicatat, kepahlawanan adalah kitab besar pendidikan warga negara, di dalamnya terkandung dialog falsafah, penegakan prinsip hukum dan kemampuan menciptakan nilai-nilai serta harapan baru dalam ruang sosial masyarakat, yang berbasis pada rasa keadilan.

Bisa diduga, kepahlawanan tumbuh melekat dalam peradaban manusia, dihidupkan dalam dongeng-dongeng, diformulasikan melalui nilai-nilai etika dan hukum, didiskursuskan melalui beragam ilmu pengetahuan, dari humaniora hingga filsafat. Namun yang penting, dihidupkan dalam berbagai kebudayaan manusia di setiap bangsa, melalui cara kerja, berpikir, bereaksi, dan harapan warga negara atas sejumlah peristiwa bangsa.

Karena itu, ratusan pesan di Facebook dan antusias masyarakat atas nasib Bibit dan Chandra hingga kasus Bank Century, peran Anggodo maupun penegak hukum termasuk Presiden, menunjukkan harapan keadilan sebagai oasis nilai kepahlawanan yang dirindukan masyarakat, sekaligus cermin panjang mafia peradilan dalam sejarah yang dipenuhi pameran demokrasi.

Dengan kata lain, jika presiden hingga jajaran penegak hukum tidak mampu menemukan fakta dan menegakkan keadilan, maka seperti dikatakan sang guru kepada penulis, 10 tahun reformasi hanya dijadikan waktu oleh elite politik untuk terampil menggunakan dan memamerkan prosedur demokrasi untuk kepentingan kekuasaan, tetapi bukan untuk keadilan.

Hasil pemilu bukan pelaksanaan demokrasi, tetapi sekadar permainan prosedural demokrasi guna menjaga dan melindungi kekuasaan beserta ekonomi yang mendukungnya. Jika ini terjadi, ini bukan demokrasi, tetapi demo alias pameran sok aksi demokrasi.

Mampu menerobos

”Kita harus membela rasa keadilan masyarakat. Kita harus berani melakukan terobosan hukum, lewat hukum yang progresif.” Ucapan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD itu adalah esensi kerja pelaku kepahlawanan.

Perlu dicatat, dalam sejarah kepahlawanan, baik pahlawan hiburan, ekonomi, hingga politik, senantiasa terbaca kemampuan terobosan di tengah anomali nilai dan peran institusi. Simak dan belajarlah dari kepahlawanan populer yang digandrungi, tokoh- tokoh Superman hingga Batman, senantiasa menerobos prosedur formal penegak hukum karena keadilan masyarakat perlu diselamatkan di tengah krisis.

Dengan kata lain, kepahlawanan adalah geniusitas terobosan pemecahan masalah, yang mengandung penyelamatan atas nilai falsafah bangsa, prinsip hukum, dan kehidupan sosial berkeadilan dalam masyarakat.

Masihkah nilai itu menjadi bagian kerja elite politik, atau hanya tinggal dalam buku-buku fiksi, dan politik kita menjadi dongeng tanpa kepahlawanan, tanpa panduan kebaikan dan keburukan serta hilangnya keteladanan?

Garin Nugroho Budayawan





Menunggu Antigone

Toto Suparto

Berani, sekali lagi berani, dan selamanya berani,” begitu ucapan Danton yang dihayati dan diamalkan oleh Antigone.

Dramawan Perancis, Jean Anouilh (1910-1987), melahirkan Antigone lewat sebuah lakon. Tokoh perempuan ini merupakan wakil semangat yang menentang dan menyerukan perlawanan terhadap tirani raja Creon.

Antigone digambarkan sebagai perempuan heroik yang berani berkata ”Tidak!” saat banyak orang berseru ”Iya.” Sikap itu membuatnya diakrabi kesulitan sampai-sampai lupa bahwa dirinya adalah perempuan yang seharusnya menjaga penampilan.

Sebaliknya, ia membiarkan tubuhnya kurus kering sehingga memudarkan kecantikannya. Wajar jika ia lalu nyaris tak mengenal makna cinta, apalagi setelah lelaki yang ia kagumi lari ke pelukan perempuan lain.

Meski demikian, ia dipuja sebagai pahlawan. Keberaniannya berkata ”Tidak!” bukan tanpa konsekuensi. Ia mengorbankan kepentingan diri demi kepentingan orang banyak. Ia membela rakyat ketimbang menghamba penguasa. Ia dinilai altruis. Meminjam ukuran Pearl M Oliner (1988), altruis itu acap bertindak hanya menolong orang lain, tindakan itu mengandung risiko tinggi, tindakan itu tanpa mengharap pamrih, imbalan, atau bentuk penghargaan lain, dan tindakan itu dijalani dengan sukarela. Antigone dihormati sebagai pahlawan.

Ukuran fundamental

Antigone adalah personifikasi pahlawan. Setiap zaman melahirkan pahlawannya. Namun, pergantian zaman hanya membedakan medan perjuangan. Karakter tak pernah berubah. Kisah Antigone memberi gambaran pahlawan dimaksud bahwa ia bermula dengan menolak, mampu menggugah hati, dan lahir dari dunia nilai tertentu. Antigone memberi ukuran fundamental pahlawan, seperti kesediaan berbuat, berjuang, dan berkorban bagi kemanusiaan serta nilai-nilai luhur yang universal.

Kisah Antigone ini membingkai makna pahlawan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Dengan menggunakan tiga kunci itu—(1) keberanian, (2) menonjol, dan (3) membela kebenaran—berkembanglah makna pahlawan itu. Ada yang mengembangkan intisari pahlawan menjadi mereka yang rela berkorban dengan prestasi lebih besar dibandingkan dengan orang seusianya dan ketulusan mengaktualisasi diri.

Saat penjajahan, makna berkorban sampai kepada kehilangan nyawa di medan perang. Namun, kini lebih kepada bagaimana seseorang mau berbuat dengan kesanggupan untuk mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan sendiri. Dalam taraf ini, seseorang tergerak hatinya dengan amal yang tak lagi mempertimbangkan keuntungan pribadi.

Di sinilah diperlukan ketulusan saat seseorang memutuskan untuk mendahulukan kepentingan orang lain. Di sini pula pertimbangan untung-rugi dikalkulasi dengan sebuah kepasrahan kepada Sang Pencipta. Ia punya keyakinan, saat menabur benih kebaikan dalam kehidupannya, maka yakin Sang Pencipta akan memberi buah kenikmatan. Keyakinan ini akan menjadi kekuatan dahsyat untuk mengoptimalkan potensi hati, akal, maupun jasmani bagi kehidupan bersama yang lebih baik.

Dari kekuatan dahsyat itu acap mengukir prestasi besar jika dibandingkan dengan orang kebanyakan. Mereka yang ingin berprestasi besar adalah yang mau terus memperbarui persepsi dan memiliki pandangan positif terhadap kegagalan. Dalam hidupnya, kegagalan bukan penghalang, tetapi menjadi acuan untuk bertekad mewujudkan hal terbaik.

Datanglah ke negeri kami

Antigone, di manakah engkau kini? Negeri kami membutuhkanmu. Kami butuh orang yang mau dengan tegas berkata ”Tidak!” demi kebenaran. Betapa sulit menegakkan kebenaran di negeri ini. Hanya karena rayuan rupiah, banyak dari kami terjerembab kubangan kotor dunia hukum. Bayangkan, aparat hukum yang seharusnya menunjukkan kebenaran justru bermain dengan skandal memalukan. Jika kebenaran sulit ditunjukkan, bagaimana mungkin bisa menjunjung tinggi keadilan?

Datanglah ke negeri kami, yang kian panas karena disengat ragam hujatan sesama kaum elite. Namun, berhati-hatilah di negeri kami karena sulit membedakan kawan atau lawan, ramah atau murka, topeng atau wajah sebenarnya, tuntunan atau tontonan, terbuka atau dusta, bahkan demokrasi atau democrazy.

Jangan kaget, di negeri kami banyak orang tak risi menerima gaji tinggi saat rakyat sulit rezeki. Ada pula orang nyaris adu jotos di muka umum demi mempertahankan argumentasi. Dan yang menyedihkan, wakil rakyat lupa rakyat pada awal tugasnya.

Antigone, siapa tahu kedatanganmu bisa membangun nilai ideal. Masih ada orang percaya, jika perbuatan seseorang merupakan pantulan nilai ideal dominan, proses kelahiran pahlawan dimulai. Kata Taufik Abdullah (2002), inilah embrio bagi sosok panutan, berjasa bagi negara, dan mau membela yang benar.

Tak usah ragu untuk ke negeri kami karena engkau tak akan menemukan pesaing di sini. Di negeri kami, pahlawan seolah hanya imaji historis atau sekadar monumen agar tak mematikan ingatan sejarah. Lebih menyedihkan, di negeri kami, pahlawan dianggap sebagai deretan nisan di sebuah taman. Maka, sebelum negeri ini kian hancur, datanglah Antigone....

Toto Suparto Pengkaji Etika