Tampilkan postingan dengan label Asep Salahudin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asep Salahudin. Tampilkan semua postingan

04/07/15

Moralitas Politik

ASEP SALAHUDIN

Seandainya orang menyimpulkan bahwa dalam ranah politik, mempercakapkan moralitas itu adalah sesuatu yang absurd, pernyataan ini tidak berlaku bagi salah seorang manusia pergerakan bernama Hatta.

Hatta menjadi sosok menggetarkan yang menunjukkan bahwa politik dan moralitas dapat bersanding berkelindan, bisa menyatu menjadi  bagian tak terpisahkan dari kepribadian dan tindakan politik hariannya. Selaras dengan keyakinannya, "Pemimpin berarti suri teladan dalam segala perbuatannya...."

10/06/15

Otentisitas Republikanisme

Asep Salahudin

Tentu bukanlah tanpa alasan ketika kaum pergerakan the founding fathers menjadikan republik sebagai haluan bernegara: bukan kesultanan, kerajaan, khilafah, imamah, dan atau daulah. Dalam  republikanisme terbayangkan "publik" sebagai daulat utama, sebagai subyek penting seharusnya tujuan bernegara digulirkan.

"Indonesia" yang diproklamasikan Soekarno dan Hatta di Gang Pegangsaan Timur 56, Jakarta, sudah menyatu di dalamnya tentang hasrat membangun konfigurasi keindonesiaan yang inklusif. Di mana di dalamnya perjuangan politik, ekonomi, dan sosial harus dilandaskan di atas semangat kesamaan (egalitarianisme), kebersamaaan (gotong royong), dan persamaan di depan hukum, di atas hamparan realitas bangsa multietnik dan multireligi. Atau, dalam ungkapan Hatta, "Indonesia secara umum sebagai lapangan terbuka  di masa depan, tempat setiap orang  akan berusaha dengan segala tenaga dan atas segala kemampuannya."

26/04/14

Kepemimpinan Imajinatif

Asep Salahudin  

Kepemimpinan nasional itu bukan   sekadar kecakapan mengelola   birokrasi, memobilisasi massa, memimpin partai, populis, memiliki pengetahuan luas, trah dari seorang tokoh, apalagi  hanya sekadar kepandaian membangun citra dan keterampilan   mengoperasikan rasa takut bagi khalayak. Namun, seseorang yang memiliki imajinasi kuat, dapat membuka hijab masa depan, dan mengubah kemustahilan menjadi kemungkinan.

Ini juga yang menjadi sebab Albert Einstein bilang bahwa imajinasi itu jauh lebih penting ketimbang ilmu pengetahuan dan persyaratan formal. Seandainya manusia pergerakan tidak memiliki modal imajinasi menjulang, saya tidak membayangkan entah kapan negeri kepulauan ini bisa terbebas dari cengkeraman kaum kolonial, dari sengketa puak dan etnik yang mengepung Nusantara dengan agenda yang bisa jadi berbeda. Seperti acap kali terjadi dari sekian perang antarsuku pada masa kerajaan tempo dulu.

31/12/13

Mistisisme Waktu

Asep Salahudin     

TAHUN 2014 segera datang. Tahun 2013 kita tinggalkan bersama kenangan dan setumpuk kekurangan.

Awal tahun kita sambut dengan harapan bahwa tahun-tahun yang akan kita lalui adalah semburat fajar yang akan mempercepat terwujudnya hidup menemukan adabnya. Tahun baru dengan terhunjamkannya spirit ”kelahiran kembali”: lahir dengan kesadaran baru.

23/03/13

Jalan Asketisme Politik

Asep Salahudin

  Ketika kawannya, Sultan Muhammad Ibnu Malik, menjadi penguasa dinasti Saljuk, seorang ulama asketik, Imam Al-Ghazali, mengirimkan ucapan selamat dalam bentuk risalah berisi sejumlah petuah sekaligus harapan agar kekuasaan yang telah ada di genggaman karibnya itu mendatangkan berkah dan menjadi saluran yang mewariskan faedah bagi semua.

Al-Ghazali merasa mumpung kekuasaan itu baru saja berada di pangkuan, kecendekiaannya merasa terpanggil untuk turun gunung, lekas mengingatkan bahaya kekuasaan apabila tidak dikontrol dengan nasihat.